Payung

Ada sebuah kisah, mengenai dua manusia setengah dewa. Seorang laki-laki yang bernama Jovian, dewa yang memiliki kekuatan menurunkan hujan. Dan seorang perempuam, Cytherean, sang dewi cinta.

Hujan turun pada bulan Februari. Entah kebetulan atau tidak, hujan selalu turun disaat Cytherean sedang tidak membawa payung.

Malam yang semakin gelap menjadi sangat dingin. Hujan masih saja enggan berhenti untuk sekedar memberi kesempatannya untuk pulang kerumah.

Saat ini, Cytherean sedang berteduh di depan toko yang sudah tutup. Malam sudah larut, hanya beberapa pejalan kaki yang melewati malam gelap berhujan bersama payungnya.

Namun entah kebetulan yang keberapa, Cytherean selalu tidak sendiri saat sedang berteduh, ia selalu bersama dengan seorang pria, seorang pria yang sama. Yang ternyata seorang manusia setengah dewa sama sepertinya.

"Kenapa kau selalu menurunkan hujan saat aku tidak membawa payung?" Tanya Cytherean tanpa menatap Jovian yang sedang berdiri satu langkah di belakangnya.

Jovian tersenyum mendengar suara Cytherean. Akhirnya wanita yang sedingin es ini bersuara juga setelah sekian kali selalu terdiam.

"Karena aku ingin bersamamu," jawabnya.

Cytherean tidak terkejut, ia sudah menduganya sejak awal. "Aku tidak tertarik denganmu."

Jawaban yang sangat dingin, ditambah dinginnya malam yang berhujan.

"Kenapa? Apa karena kau seorang pendosa?"

Cytherean berbaik menatap Jovian lurus, "Kau tidak berbeda denganku, Jovian."

Jovian terkekeh. "Kupikir kau tak tahu namaku."

Entah apa yang membuat Jovian tertawa, ia pun menatap mata Cytherean yang sejak tadi menatapnya lurus. "Kau tahu kita tidak berbeda. Lalu, kenapa kau menolakku? Seolah-olah kau adalah orang yang paling suci?" Lanjutnya.

"Tak ada untungnya aku bersamamu,"

"Jika belum dicoba, siapa yang tahu?"

..

Bekasi,

Komentar

Postingan Populer