Penyeberangan Jalan

 Udara malam yang semakin dingin, jalan raya yang mulai sepi, lampu-lampu yang mulai padam, dan seorang perempuan yang sedang berdiri di penyeberangan jalan, menatap lurus, membiarkan anak-anak rambutnya menari dibelai angin.

Langit tidak menunjukkan tanda-tanda hujan, tidak pula mendung. Langit cerah tanpa awan, setengah bulan yang sedikit redup, tak ada bintang satupun yang menemani.

Dilihat dari nametag nya, perempuan itu bernama Hana, nampaknya baru saja pulang bekerja. Bukannya langsung pulang kerumah, ia malah terdiam di penyeberangan jalan. Melihat jarangnya kendaraan yang berlalu lalang.

"Apa yang kau pikirkan?"

Suara itu menyadarkan Hana, laki-laki bertubuh tegap yang lebih tinggi darinya tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya. Ikut menatap jalanan yang mulai sepi.

"Hhmm?"

"Apa yang kau pikirkan sambil terbengong disini? Kau tidak berniat bunuh diri dengan cara melompat dari sini, kan?"

Ia menatap Abi yang masih menatap jalanan, yang bertanya tanpa menatapnya. Nama panggilannya Abi, rekan kerja Hana.

Menghela napas sesak dengan perlahan, kemudian kembali menatap jalanan yang entah sejak kapan mulai sepi.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan?" Ucap Abi mengembalikan pertanyaan. "Jika kau ingin melompat dari sini, bukan kematian yang langsung kau temui," Lanjutnya, sambil menyalakan sebatang rokok.

"Jika kau melompat dari sini..." Abi menjeda kalimatnya dengan menghembuskan asap rokok yang mana angin malah membuatnya mengenai Hana. "Sepertinya kau hanya patah tulang saja."

"Kau selalu mengerutkan kening. Hentikan keributan yang ada di kepalamu. Jangan kau ajak berkelahi terus menurus. Itu hanya membuatmu hancur." Ucap Abi tanpa menatap Hana dengan sebatang rokok di jarinya.

"Tidak usah sok tahu apa yang sedang aku rasakan."

"Karena aku memang tahu. Sangat menyesakkan, bukan?"

.

Bekasi,

Komentar

Postingan Populer