Gerimis & Pengakuan
Malam itu, ketika gerimis turun dikota Bandung, aku mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu.
Kamu hanya menatapku tak mengerti. Padahal aku sudah mengatakannya dengan jelas. Bahwa aku menyukaimu.
Kamu berkata bahwa kita banyak perbedaan, memberikan banyak alasan untuk menolakku.
Padahal, aku tidak butuh alasanmu. Jika tidak menyukaiku, katakan saja tidak. Jangan membuat banyak alasan. Aku tidak ingin mendengar alasan seperti itu darimu.
Aku hanya butuh satu kata saja darimu. Apa aku, benar-benar tak ada kesempatan?
Kamu hanya menatapku diam. Dan berkata agar aku tidak menyukaimu. Tak ada alasan yang kau berikan.
Lalu kita berdua terdiam. Bergelut dengan pikiran kita masing-masing.
Gerimis masih turun. Namun kita tak ada niat beranjak meninggalkan.
Aku tersenyum menatapmu. Air mataku jatuh tanpaku sadari. Namun kamu tetap sama, menatapku dengan diam.
Aku pergi meninggalkanmu di tengah gerimis kota Bandung. Kau tidak mengikutiku. Membuatku yakin kalau aku memang tak ada kesempatan untukmu.
Sesak..
Yang aku inginkan saat ini adalah gerimis berubah menjadi hujan deras.
Aku ingin menangis tanpa ada orang yang tahu bahwa aku sedang menangis. Bukannya sok melanklonis. Hanya saja, saat ini aku tak tahu harus berbuat apa. Semuanya terjadi terlalu cepat dan membuatku sekarat.
Pernyataan cinta yang ditolak di saat gerimis, benar-benar sangat romantis.
. . .
Komentar
Posting Komentar