Hujan & Halte
Aku tidak ingin melanklonis ketika hujan. Tapi bagaimana yah. Hujan hadir ketika kita akan berpisah. Seperti tidak mengizinkan perpisahan kita terjadi, jika tidak hujan hadiri.
Waktu itu aku bertanya padamu dihalte bus ketika hujan turun. Kenapa wajahmu nampak sedih. Kenapa senyummu tak sesering terlihat seperti biasanya. Ku kira apa masalahmu. Ternyata hatimu yang sedang terluka.
Kamu bilang, bahwa orang yang kau cintai mulai tidak mencintaimu lagi. Kamu bilang, orang yang kamu cintai kemungkinan akan meninggalkanmu.
Aku diam mendengarkan. Mencerna apa yang kamu katakan barusan. Aku tersenyum getir. Mengerti apa yang kau katakan.
Ternyata selama ini, fikiranku yang menganggapmu masih sendiri semua itu tidak benar.
Malam itu hujan turun dengan alunan yang sangat indah. Seperti menjadi lagu pengiring diantara kita. Aku tidak menanggapi apa yang kamu ceritakan selama hujan turun.
Kemudian kita sama-sama membisu. Aku dengan fikiranku. Dan kamu dengan fikiranmu.
Aku bertanya pada hatiku sendiri. Bagaimana dengan hati? Apakah baik-baik saja?
Jadi selama ini, aku membuang waktuku untuk mencintai seseorang yang ternyata sudah dimiliki. Aku bisa sebodoh itu sehingga tidak mengetahui. Jangankan untuk menyelidiki hatimu yang sudah dimiliki atau belum dimiliki. Mengontrol hatiku agar tidak jatuh padamu saja aku tidak bisa.
Kamu membuat hari hujanku yang nyaman selalu mengingat akan hari itu. Apalagi jika berada dihalte dan hujanpun jatuh. Rasanya aku seperti melihat gambaran ulang apa yang terjadi malam itu.
Dan akupun masih bertanya pada hatiku. Apakah baik-baik saja?
Aku hanya bisa menasihati hatiku. 'Tidak apa-apa, semua akan sembuh satu per satu.'
. . .
Komentar
Posting Komentar