Pertanyaan
Aku selalu bertanya-tanya pada semesta, bagaimana keadaanku ketika kita tidak lagi bersama?
Apakah aku akan hancur sampai kepingan-kepingan kecil?
Ataukah aku hanya menerima takdir yang sesungguhnya tidak aku terima?
Aku selalu bertanya-tanya pada angkasa, bagaimana caraku bertahan ketika semua yang tidak aku inginkan mulai datang padaku?
Akankah aku akan menyerah pada takdir yang perlahan-lahan membunuhku?
Ataukah aku menyerang takdir untuk mengubah keadaan?
Banyak sekali pertanyaan terlintas dikepalaku. Ingin ku utarakan semua pertanyaan yang membuatku muak akan semua ini
Namun pada dasarnya aku sendirian. Menghadapi semuanya yang tak ku tahu akan mampu ku hadapi atau tidak
Sebuah keinginan konyol terlintas dikepalaku. Rasanya aku ingin sekali tertawa terpingkal jika aku mengutarakannya pada semesta.
Sangat lucu. . .
Bagaimana bisa, aku yang memang seorang diri, menginginkan agar aku tak sendirian. Benar-benar konyol, bukan?
Semesta sangat baik, ia diam saja ketika semua orang menganggap ia sebelah mata. Dan aku belajar dari semesta, tapi bedanya, aku tak sebaik semesta, yang diam saja ketika ia tak dihargai
Aku kembali berfikir untuk menanyak sesuatu pada semesta. Tapi sepertinya pertanyaan ini melebihi dari kata konyol. Pertanyaan yang sangat sinting. Sampai aku ingin sekali membenturkan kepalaku pada batu ataupun benda keras yang ada di sekitarku. Pertanyaan yang membuatku ingin memuntahkan semua makanan yang sudah kumakan selama sebulan ini. Pertanyaan itu semakin ingin ku utarakan pada semesta
Apakah, ada yang mencintaiku?
Aku tidak berbohong ketika aku ingin memuntahkan makananku ketika kata-kata itu keluar begitu saja.
Sudahlah, pertanyaanku semakin tidak masuk akal saja. Lupakan apa yang aku utarakan barusan. Lupakan semua kata-kata yang ku ucapkan barusan. Semua itu hanya omong kosong. Tak ada artinya sama sekali. . .
Selamat malam, semoga malam ini kamu bermimpi indah...
Bekasi,
Komentar
Posting Komentar