Di dalam do'aku, sudah tak ada namamu
Setelah patah hati untuk kesekian kali, do'aku semakin panjang. Namun, kini tidak ada lagi namamu disana. Meskipun dulu, cukup menguras air mata untuk menghapus namamu dari hatiku.
Sejak saat aku melihatmu sudah tidak merasakan apa-apa lagi, aku memutuskan untuk benar-benar berhenti. Ku hilangkan semua rasaku untukmu.
Tidak ada lagi yang bisa di ubah dan di perbaiki. Pada akhirnya, aku berhenti untuk menunggumu. Menghapus semua harapanku padamu. Segala hal tentangmu, sudah selesai.
Mungkin kamu ingin ikatan seperti sepasang kekasih sehidup semati, yang selalu memperbaiki ketika sedang di landa perselisihan hati. Namun nyatanya kita tidak terikat dalam hal itu, kita tidak terikat dalam hal apapun. Lalu, bagaimana caraku untuk memperbaiki jika tidak kau ikat dalam hal yang suci?
Ternyata, do'a kita berbeda, tujuan kita tak searah. Hanya saja, kita kebetulan ada di jalan yang sama
Jika bukan aku yang kamu mau, mengapa harus berjalan bersamaku sejauh itu?
Ternyata, menuju ke arahmu akhirnya harus aku paksa berhenti. Aku menyukaimu, namun aku harus merelakanmu.
Episode menjadikanmu tujuan, harus aku paksa selesai. . .
Siapa sangka, yang dikira searah, ternyata memberi luka yang cukup parah. . .
Bekasi,
Komentar
Posting Komentar