Aku tidak baik-baik saja
Aku tidak punya tempat pulang untuk sekadar menaruh cerita. Setiap kali ingin berbicara, kata-kata seperti menguap sebelum sempat tersusun. Akhirnya aku hanya berbaring, menatap langit-langit kamar yang bisu, berharap ia mengerti apa yang tak mampu kujelaskan. Di ruang yang sunyi itu, aku dan pikiranku saling menatap, sama-sama lelah, sama-sama tak tahu harus mulai dari mana.
Sering kali air mata jatuh tanpa suara. Bukan karena tak ingin didengar, tapi karena sudah terlalu terbiasa memendam. Perasaan-perasaan itu menumpuk seperti debu di sudut hati, tipis, namun lama-lama membuat sesak. Aku menahan semuanya sendirian, sampai lupa rasanya berbagi, lupa bagaimana caranya mengatakan, “Aku tidak baik-baik saja.”
Ada bagian dalam diriku yang ingin berteriak, tapi suaranya terperangkap di dada. Aku hanya tahu rasanya berat, seperti membawa sesuatu yang tak terlihat namun tak pernah benar-benar bisa dilepaskan. Hari-hari berjalan seperti biasa, wajahku tetap tenang, tapi di dalam, ada badai yang tak pernah benar-benar reda.
Andai saja ada satu ruang yang aman, satu pelukan tanpa tanya, satu telinga yang mau tinggal lebih lama. Mungkin aku tak perlu lagi berpura-pura kuat. Mungkin aku bisa belajar lagi bagaimana caranya jujur pada luka, bagaimana caranya memaafkan diri sendiri karena merasa rapuh.
Sampai saat itu tiba, aku akan tetap belajar bertahan. Perlahan, meski terseok. Sebab di balik semua rasa berat ini, aku masih ingin percaya, bahwa suatu hari nanti, aku tak lagi sendirian menghadapi isi kepalaku sendiri.
Bekasi,
Komentar
Posting Komentar