Tangis yang tak hanya milikku
Hari ini tidak buruk untukku, atau mungkin aku hanya sudah terlalu terbiasa menyebutnya begitu. Ada hari-hari yang terasa biasa saja karena hati sudah pandai menahan, sudah terlatih untuk tidak terlalu banyak berharap. Namun, bisa jadi bagi orang terdekatku, hari ini adalah hari yang amat sangat buruk. Hari yang meninggalkan sesak di dada dan lelah yang tak terlihat oleh mata.
Aku sempat menangis karena beberapa adegan film yang begitu menyayat hati. Tangis yang kupikir hanya sekadar luapan perasaan sementara. Tapi ternyata, hari ini bukan hanya aku yang menangis. Di dalam rumah ini, ada isak tangis lain yang jauh lebih pilu, lebih nyata, lebih menyakitkan. Tangis yang bukan berasal dari layar, melainkan dari luka yang benar-benar terjadi.Aku tidak terkejut dengan alasan di balik tangisan itu. Seolah semua sudah bisa ditebak arahnya. Betapa kasihan keluarga ini, harus kembali merasakan sakit karena ulah seseorang yang seharusnya menjaga, bukan melukai. Luka yang mungkin tak terlihat oleh orang luar, tapi terasa begitu dalam bagi yang mengalaminya.
Dan kasihan sekali aku, yang semakin hari semakin takut untuk percaya pada sebuah ikatan. Semakin ragu untuk menggenggam sesuatu yang katanya bernama komitmen. Rasanya seperti berdiri di ambang, ingin melangkah namun dihantui bayangan luka yang sama. Aku ingin percaya, tapi hati ini sudah terlalu sering belajar tentang kecewa.
Bekasi,
Komentar
Posting Komentar